PuLang Kampung : BLORA – 2
Awalnya, kita berencana untuk menikmati serabi di pagi hari. Ya serabi juga merupakan makanan khas kota Blora. Biasanya yang berjualan ibu-ibu di pinggir trotoar, mulai dari jam 5 pagi sampai jam 7 pagi. Menggunakan cetakan serabi dr tanah liat dan dibakar menggunakan kayu bakar. Serabi disini hanya ditaburi kelapa, atau dimakan menggunakan santan. Ada satu penjual serabi yang memodifikasi serabinya dengan irisan pisang dan taburan cokelat. Karena kita bangun kesiangan, akhirnya kita makan serabinya dirumah, untung Mama aku pengertian, jadi dibungkusin deh

begini tampilannya, dibungkus dengan daun pisang

Dinikmati dengan taburan parutan kelapa di dalamnya. Gurih!

Pagi ini kita akan untuk mengunjungi Sumur Minyak Tua dia daerah krewengan. Tapi sebelumnya kita akan menjemput teman saya, Widha, di seberang desa bernama Randublatung. Karena jalan antar desa antar propinsi di kota ini seperti jalur offroad, maka kita menggunakan mobil offroad! hahahahaa…

Gagah kan? :p
daaaannnn perjalanan dimulai…

- kawasan hutan Randublatung, yang jalannya bagus…
Disepanjang jalan saya berfikir, kenapa jalan di daerah saya ini parah sekali, tidak adakah niatan untuk memperbaiki? Beberapa kali saya melihat warga menambal jalannya dengan tanah, dan di dekat lubang itulah anak2 berdiri meminta sumbangan. Hmmm ironis? padahal blora memiliki potensi alam yang cukup kaya. Memang jalanan ini bukan akses utama untuk menuju kota besar, tapi harusnya ngga begini begini juga kan ya…

ini belum seberapa, karena tidak sempat mengabadikan yang parah..
Akhirnya kita menemukan si makhluk aneh dari desa randublatung Widha, dan berikut penampakannya….

berjuang menghadapi rintangan...
Dari randublatung ke cepu (lokasi sumur minyak), kita akan melewati daerah kedungtuban, dan disepanjang perjalanan ini terdapat Es Kelapa Muda a.k.a Degan yang ueeenaaak bangeeet. Yah, terdengar sepele, cuma es degan. Tapi jangan salah Sodara Sodara, es degan disini sungguh berbedaa. Berada di dekat lapangan bola, di gubug tempat biasa para supir truck beristirahat. Es Degan ini tidak menggunakan sirup ataupun gula putih, tetapi menggunakan campuran madu, jeruk nipis, dan ada sedikit aroma gula jawa (sedikit sekali). Rasanya sueegeeerr benerrrr. Kalo di daerah solo ada juga Es Degan model begini, istilahnya sie Es Degan Jawa Bali. Tapi entah mengapa tetap berbeda. Di warung tak bernama ini, dia tidak hanya menyediakan Es Degan saja, tetapi ada juga makanan-makanan seperti mie instan, nasi beserta lauknya. Yang menarik dari makanan disini adalah rica rica menthoknya, cucook buat di cemil bareng Es Degannya… Huaaaahh… MantaaabLah Sodara Sodara… Rica-ricanya pedes, Es Degannya segaaaarrr.. Apalagi dinikmati nersama para supir-supir truk dengan background musik2 dangduuut… yiiihaaaaaa….

Rica-rica menthok yang dibungkus kecil kecil...

Es Kelapa Muda yang T.O.P B.G.T

Begaya ala supir truck...

Yap perut sudah sedikit terisi

, perjalanan berikutnya ke arah cepu tetapiii kita berhenti dulu mengisi perut kembali dengan makanan utama. Yap! kita menuju Lontong Opor Pak Pangat! Makanan ini di referensikan oleh sodara Widha, berada di daerah Ngloram, di Jl Lapangan Terbang. Yah, Blora juga punya bandara lhoo… walaupun cuma lapangan terbang perintis saja. Lumayanlah ya… (-__-”)
Yah, Sampailah kita… Bangunan rumah sederhana dari kayu, tidak seperti tempat makan. Begitu memasuki ruangan ini, tidak berasa ada di warung makan, tetapi merasa di rumah keluarga yang sedang mengadakan acara makan bersama. yah.. biarpun nyempil, tempat ini ramai sekali pengunjung. Dan ternyata, opor ini masih dimasak menggunakan Kayu, sangat traditional. Dan penyajiannya disajikan dalam satu mangkuk besar, berisi ayam berjumlah sesuai pesanan. Yah, cukup lama menunggu karena antri, dan memasaknya masih traditional. Perut kami pun semakin tak sabar menunggu, mereka berteriak… kruucuuk krucuuuk… hehehhee
Sembari menunggu, sembari berbincang, sembari fotooooo…
Dan… VoiLaaaaaaaaaaaa….

Lontong Opor Pak Pangat

biarlah, foto yang berbicara :p
Rasanyaaaa Sedeeeeepppp beneer.. Kata widha sih pedas, tapi buat saya dan sara, ngga begitu pedas. Opor ayam berkuah santan, dengan sedikit minyak dari cabe merah, dan cabe rawit utuh dan bawang merah goreng bertebaran. Disajikan bersama Lontong yang berukuran Besaaar Sodara Sodara.Hiihihihihi… Rasanya gurih pedas, bumbu2nya sangat terasaa… SedeepLah pokoknya.. Kuah opornya itu enak sekali… bumbunya juga meresap di ayam nya. Ditambah dengan krupuk , nyaaaaaaammmmm….
Waktu sudah sangat siaang, kita harus bergegas melanjutkan perjalanan…
Waktu berjalan… mobil berjalan… kok ndak nyampe2 yaaa…
melewati perbatasan bojonegoro, kata mama kawengan ini masuk kabupaten Blora… tapiii…. entahlah…
And finally, kita sampe di gerbang pertamina Distrik I Kawengan, yap mulai terlihat mobil-mobil aneh mirip transformer, dan alat-alat modern entah apa ini namanya… hehehehhee…
tidak ada petunjuk menuju sumur minyak tua itu, dan akhirnya dengan seribu kali bertanya kepada orang2 sekitar, kitapun berhasil menemukan. Yap… semakin lama jalanan semakin jauh semakin hancur, jauh sekali dari peradaban. begitu memasuki areal sumur tua, seperti memasuki zaman yang berbeda. Yah, zaman purbakala, atmosfernya sungguh berbeda. Sumur minyak tua ini terletak di bukit wonocolo. Sumur minyak tua ini di ambil oleh para warga sekitar dengan menggunakan alat yang masih sederhana. Dan ceritanya bisa tergambar di foto-foto ini

Memasuki kawasan sumur minyak tua wonocolo

Menuju puncak perbukitan wonocolo

Yay! Berhasiiill.... \ (^_^) /

Di bukit ini terdapat berpuluh puluh sumur minyak..

Seorang warga sedang menimba minyak...

masih berbentuk air, tetapi mengandung minyak

Kemudian diendapkan untuk memisahkan antara air dan minyak nya...

Truk Truk yang sudah tidak layak pakai dipakai untuk membantu menggerakan pompa minyak,,
Okey.. I think I’m so sleepy… *hooaaammm… (-____-)
Like this:
Be the first to like this post.
No comments yet
Langsung ke formulir komentar | comment rss [?] | trackback uri [?]